Antara Seoul, Busan dan Tangerang Selatan

Part Satu, Seoul

Disatu masa berangkatlah saya ke Seoul, Korea Selatan. Saya diplot melakukan residensi seni di kota ini selama setahun ke depan.

Awalnya, ada rasa penasaran dan ketertarikan bukan soal seni. Karena saya pikir kota ini sering muncul di televisi dengan perempuannya yang cantik – cantik.

Seoul punya seni dan ekonomi kreatifnya yang berkembang begitu pesat dan ditopang oleh kebudayaan yang begitu popular dan masif.

Seoul, punya Heyri Art Valley. Sebuah komplek seni terpadu yang berdiri di atas lahan tengan luas lebih dari seratus hektar memiki 40 galeri dan museum seni.

Untuk mencapai ke lokasi yang berada di Paju-si, Gyeonggi-do ini hanya sekitar 2.5 jam menggunakan mobil.

Kebetulan, saat itu sedang musim semi. Jadi sepanjang perjalanan saya dari Seoul menuju Heyri Art Valley dihiasi pepohonan yang berjejer di sepanjang jalan dengan warna daunya yang cerah, merah kekuningan.

Jalanannya pun sangat mulus dan tanpa macet. Langit tampak jernih dihiasi barisan awan yang menggantung rapih. Dan udara kota terasa dingin namun begitu sejuk.

Heyri Art Valley punya pintu gerbang utama yang tidak terlalu besar.  Tidak seperti pintu gerbang utama Ancol, di Jakarta.

Digerbang itu tidak terlihat antrian dan tidak ada juga petugas yang bertele-tele bertanya. berapa orang pak?

Dengan santunnya petugas di Heyri Art Valley menyapaku (dalam bahasa Korea), lalu dijawab oleh rekan ku juga dengan Bahasa Korea.

Petugas pintu gerbang itu pun membalas dengan tersenyum sembari mengangkat sebelah tangannya sebagai tanda bahwa mobil kita dipersilahkan masuk.

10 meter pertama, saya dihadapkan dengan sign area dengan desain yang menarik, ada tulisan huruf hangeul “hwan-yeong” dan ilustrasi peta area.

10 meter kedua, instalasi patung besar figur manusia tanpa busana dengan posisi setengah menunduk berwarna biru seakan menyapaku, dan ke setiap tamu.

Saya menebak – nebak. Bahan dasar patung itu solid, mungkin perunggu varnish, dan itu sangat mahal.

Disamping patung itu ada galeri pertama dengan tulisan “Korean Museum of Contemporary”. Dan tak jauh daritempat tersebut ada gedung kedua dengan tulisan “3D Art Gallery.”

Gedung ini punya arsitektur luar biasa yang bisa membuat mata terpicing-picing. Potongan bangunan pada tiap sudutnya asimetris, dan banyak lukisan mural 3D.

Di ujung persimpangan gang berdiri tiga gedung saling berhadapan. Satu cafe kopi yang minimalis namun tetap artsy, disimpangnya galeri seni instalasi, dan galeri seni kertas.

Baru sampai situ saya takjub lagi. Betapa briliannya orang-orang Korea ini berani membangun kompleks seni dengan segala variannya. Betul-betul spesifik.

Residensi seni adalah padanan kata untuk belajar seni di tempat orang atau institusi lain dengan proses kurasi atas gagasan dan atau project khusus si seniman.

Saya beruntung melakukannya di area ini. Setiap hari saya bisa jalan-jalan di satu kompleks dengan beragam kejutan di tiap bangunannya.

Masing-masing penghuni bangunannya, memproduksi program kesenian yang lagi-lagi juga menarik perhatian.

Busan Gamcheon Culture Village

Korea Selatan, dengan luas 100.210 km2  atau  hanya sekitar 10% dari luas Indonesia 1,904,569 km2  dan penduduk 52 juta jiwa atau hanya sekitar 20% dari 262 juta jiwa penduduk Indonesia, adalah negeri dengan SDM yang berkembang sangat pesat.

Hal ini dapat dipahami karena perhatian khusus pada pendidikan, akses kesehatan (bisa dibaca dengan perawatan kecantikan) sangatlah baik.

Khusus dari segi kesenian dan kebudayaan, hampir setiap distrik mereka memiliki Cultural Center yang berinduk pada Dinas Pendidikan.

Mereka memiliki dana khusus untuk banyak misi kebudayaan, project kesenian, bahkan di banyak negara mereka mendirikan khusus Korean Culture Center sebagai representatif negaranya.

Contoh lain adalah, ada aturan yang dibuat oleh pemerintah, bahwa 1% dari dana pembangunan tiap gedung wajib diperuntukan untuk membuat patung atau instalasi seni di area gedung yang akan dibangun pengembang.

Maka yang terjadi adalah, kita bisa melihat banyak patung atau instalasi seni di kota-kota di Korea Selatan.

Orang-orang berkumpul, atau sekedar lalu lalang dengan perasaan yang saya lihat sendiri, lebih bahagia dalam potret yang tentunya sangat fotografis pula.

Juga bagaimana mereka menaruh perhatian pada ruang publik. Ruang publik atau public sphere (Inggris) atau offentlichkeit (Jerman) merupakan sebuah konsep yang sering disebut di dalam ilmu-ilmu sosial.

Ruang publik di kota ini tertata rapih, namun tidak banyak yang beraktifitas, kecuali pada tiap akhir pekan, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan dan bar atau cafe.

Ada juga cerita pergerakan kesenian yang masyhur di Korea Selatan, yaitu di Busan Gamcheon Culture Village yang di gagas oleh komunitas seni rupa.

Gamcheon adalah desa yang berada di gunung di Kota Busan. Pada tahun 1940an hanya sekitar 20 rumah yang berada di desa tersebut.

Setelah Perang saudara Korea tahun 1950an, banyak pengungsi pindah ke Kota Busan dan ke desa tersebut.

Dalam kondisi sebagai korban perang, himpitan ekonomi keluarga di desa tersebut menjadi isu sehari-hari.

Walupun pada awal 1990an ekonomi Korea Selatan mulai membaik, Desa Gamcheon tetap salah satu desa termiskin di Korea Selatan.

Hingga kemudian ditahun 2009 Komunitas Seni Rupa didukung Kementrian Budaya dan Pariwisata serta Pemerintah Kota Busan membuat Busan Project dan Miro Project, sebuah project yang mendambakan areal Gamcheon sebagai Michu Pichu, kawasan perumahan di pegunungan dengan rumah yang berwarna-warni.

Maka sekelompok seniman membuat mural, membuat instalasi, dan bersama warga mengecat rumah mereka dengan aneka warna-warni pastel. Kini, hampir setiap minggu ada 10,000 pengunjung yang mengunjungi Desa Gamcheon.

Menuju Pulang Tangerang Selatan

Dipesawat saya mendengarkan lagu-lagu Frank Sinatra, suara beratnya meringankan rasa berat untuk meninggalkan.

Perempuan yang duduk disampingku memasang headset, kakek tua yang berada didepanku sangat stylish dengan topi vedora dikepalanya yang beruban putih.

Pramugari maskapai ini semuanya berbahasa Korea yang menurut saya intonasi bicaranya terdengar seperti sekumpulan orang yang sedang bergumam panik.

Namun hal itu tidak melunturkan segala kecantikan yang mereka miliki. Hampir sejam penerbangan ini, saat mereka menghampiri dan menawari ku minuman.

Orang sebelahku pesan segelas red wine, tapi saya pesan susu hangat. Penerbangan tetap dilanjutkan, dan saya pun terlelap.

Setibanya di Bandara Soekarno Hatta yang berada di Kota Tangerang. Saya disambut dengan riuhnya orang lalu-lalang orang-orang, dan potter yang menawarkan jasa pengangkutan koper.

Diujung lorong sana tampak orang – orang tak sabaran menunggu kapan koper mereka datang.

Waktu menunjukan pukul 11.15 cuaca terik sedang panas-panasnya. Saya bergegas mencari smoking area.

Menyalakan sebatang rokok yang kubawa dari Seoul. Tak jauh dari tempatku merokok, terdengar perdebatan antara dua sopir taksi tentang apakah isu korupsi dan demonstrasi.

Rokok jadi pahit, saya matikan, saya bergegas cari taksi, saya pulang sambil menyusun mimpi dan seabrek ide yang hamper tak tertampung di otak ini untuk mmbangun skema kesenian Tangerang Selatan.

@nak muda penggerak komunitas
dan kesenian ‘paling berbahaya’
di Kota Tangerang Selatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here