Ketua LBB Tangsel : Ngamen Gunakan Ondel-Ondel Bukan Upaya Pelestrian

Ondel-ondel saat ngamen di pinggiran jalan Kota Tangsel.

METROTANGSEL.COM, Pondok Aren –  Ondel-ondel dikenal sebagai salah satu kesenian khas Betawi yang disajikan pada waktu – waktu tertentu.

Namun sekarang ini kita bisa sering melihatnya berkeliling tanpa kenal waktu dari satu tempat ke tempat lain.

Salah satu yang simbol kesenian betawi, itu kerap digunakan sebagai alat ngamen.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius dari salah seorang penggiat kebudayaan adat Betawi Tangsel, Abdul Karim.

Dirinya pun menyebutkan jika ‘ngecrek’ atau ‘ngamen’ dengan menggunakan ondel-ondel cenderung hanya memanfaatkan budaya untuk kepentingan pribadi.

“Saya mewakili lembaga budaya betawi juga merasa miris karna pengamen yang menggunakan ondel-ondel yang tidak mencerminkan pelestarian budaya. Dan lebih cenderung memanfaatkan simbol budaya untuk kepentingan pribadi,” katanya melalui pesan singkat yang diterima metrotangsel.com, Kamis malam (10/5/2018).

Apalagi, lanjut Ketua Lembaga Budaya Betawi (LBB) Kota Tangsel ini, operasional ngamen mereka tidak mengenal waktu. Seperti pagi hari saat jam belajar anak-anak sekolah, siang hingga malam.

“Padahal dulu, orang tua kita mengajarkan kalau adzan maghrib harus pulang kerumah atau pergi ke musholla untuk sholat berjamaah lalu mengaji, tapi sekarang pengamen yang menggunakan ondel-ondel merusak tatanan yang telah,” ungkapnya.

Ditanya soal pemerintah daerah bersama DPRD Kota Tangsel yang saat ini tengah merampungkan Pelestarian Budaya Betawi yang ada di Kota Tangsel, Karim mengaku sangat mengapresiasi langkah pemerintah yang berupaya melestarikan kearifan tradisi lokal di Kota Tangsel.

“Saya berharap setelah disahkannya raperda pelestarian budaya betawi menjadi perda, pemerintah daerah nantinya bisa mengatur itu semua,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pansus Raperda Pelestarian Kebudayaan Betawi DPRD Kota Tangsel, Syihabuddin Hasyim mengatakan jika Raperda tersebut masih menyisakan beberapa hari pembahasan lagi dan akan difinalisasi.

“Kami masih memiliki beberapa hari lagi sebelum Raperda ini masuk tahap finalisasi. Kami manfaatkan dengan sangat serius agar semua aspek yang berkenaan dengan kebudayaan Betawi masuk dalam Raperda ini,” tandasnya. (hdr/asn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here