Peringati Harkitnas Forum Pemuda Lintas Agama Gelar Dialog Kebangsaan

METROTANGSEL.COM, Serpong – Memperingati hari kebangitan nasinal (Harkitnas) 20 Mei, Forum Pemuda Lintas Agama (FPLA) Kota Tangsel mengelar dialog Kebangsaan Antar Umat Beragama, Senin (21/5/2018).

Kegiatan bertajuk “Kebhinekaan bersatu, bersama, membangun Indonesia” itu digelar di Aula Kantor Kemeneg, Serpong, Tangsel.

Kepala Kemenag Kota Tangsel Abdul Rojak hadir sebagai narasumber bertemakan “Tantangan dan Harapan Ideologi Pancasila”.

Mengapa mengusung tema itu, Rojak menjelaskan, karna sejalan dengan kondisi kekinian masyarakat luas Indonesia mulai goyah dengan ideologi pancasila, padahal landasan negara dan menjadi ideologi kebangsaan, namun banyak pihak mulai merongrong.

Kondisi tersebut kata Rojak, perlu didasarkan pada sejarah masa lalu, bahwa konsensus pemilihan pancasila sebagai landasan negera dilatar belakangi Indonesia terdiri dari suku, budaya, bahasa dan agama, sehingga konsep ini diterapkan.

Jika agama menjadikan landasan agama, tentu kemajemukan antar agama tidak akan tumbuh dan hidup berdampingan sementara di tepi lain perbedaan adalah rahmat di alam semensta ini.

“Agama buka hanya soal ritual tapi masuk pada konsep negara. Harapan tetap optimis bahwa Pancasila eksis bertahan karena kerukunan di Indonesia sangat kuat hal itu terjadi saat sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Upaya lain mendirikan negara Islam misalnya pernah terjadi dulu namun tidak berhasil. Ini menjadi pelajaran berarti bagi masyarakat dan perlu mempelajari sejarah,” katanya.

Dan yang menjadikan dasar mengapa tatan kehidupan di Indonesia itu cukup kuat, karna memandang persaudaraan. Konsep tolong menolong menjadi acuan utama, dalam kehidupan berbangsa dan beragama.

“Persaudaraan buka soal agama semata tapi soal kemanusiaan, tata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan banyak hal yang bisa menjadi perekat. Untuk itu mari saling menghormati,” tambahnya.

Dialog dihadiri sedikitnya 200 orang terdiri dari berbagai perwakilan pemuda agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Sementa itu, Rektor Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Sapardi menyampaikan, khasana budaya menjadi kekayaan yang tidak pernah habis untuk Indonesia, jumlahnya cukup banyak tersebar di seluruh Sabang sampai Mereuke.

Nilai-nilai kearifan lokal ini yang menjadi perekat antar satu daerah dengan daerah lain. ini fakta yang nyata dan dapat dirasakan hingga kini.

“Kearifan lokal banyak di Indonesia yang bisa menjadi penguat nasionalisme kita bersama. Setiap daerah memiliki kearifan lokal yang mampu memupuk kerukunan. Itulah kekayaan lokal yang ada untuk itu mari kita jaga dan rawat serta cintai sebagai bagian dari keberpihakan dalam menjaga kebersamaan di bumi pertiwi ini,” ucapnya.

Sedangkan perwakilan dari Gereja Gereja Katolik Santa Monika BSD, Romo Agustinus mengajak kepada masyarakat untuk menjadi orang Indonesia seratus persen. tidak setengah-setengah dalam pengertian mencintai kekayaan alam, kemajemukan, kebersamaan, kesopanan dan saling tengang rasa sesma tetangga dan orang lain. (hms/asn).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here