Sekolah Ramah Anak Jadi Acuan Penangkal Kekerasan di Sekolah

METROTANGSEL.COM, Ciputat – Menteri Perberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Yohana Susana Yambise hadir di Sekolah Bethesda untuk Deklarasi Komitmen Bersama Sekolah Ramah Anak di Kota Tangsel. Jumat (25/5/2018).

Sekolah Ramah Anak (SRA) merupakan salah satu indikator yang harus dipenuhi oleh Kabupaten/Kota yang berkomitmen untuk mewujudkan Kota Layak anak.

Tujuan dari pembentukan Sekolah Ramah anak adalah menciptakan lingkungan sekolah yang Bersih, Aman, Rapih, Indah, Sehat, Asri dan Nyaman.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise menilai, sekolah perlu dikedepankan kembali sebagai ruang yang ramah bagi anak. Menurutnya, sekolah ramah anak (SRA) dapat menjadi jawaban atas krisis kepercayaan pada lingkungan sekolah.

“Tugas kita semua untuk menjamin setiap anak tumbuh dan berkembang secara baik. Mereka harus dilindungi dari segala bentuk kekerasan. Melalui deklarasi sekolah ramah anak, mari kedepankan kembali lingkungan sekolah yang ramah bagi anak. Ciptakan interaksi positif. Didik anak tanpa kekerasan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie mengatakan, jumlah anak di Tangsel kurang lebih 500.000 anak yang merupakann tanggung jawab bersama untuk mendidik mereka menjadi generasi penerus bangsa yang sehat jasmani dan rohaninya serta memiliki kecerdasan dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Kondisi yang terjadi saat ini tentunya kita sama-sama melihat dan merasa prihatin bahwa telah terjadi berbagai penyimpangan perilaku pada anak serta meningkatnya kasus kekerasan seperti tawuran, bullying, pengeroyokan dan kejahatan seksual kepada anak,” ungkapnya.

Berdasarkan data yang dilaporkan oleh P2TP2A Tangsel untuk Tahun 2017 telah terjadi 167 kasus dimana 120 kasus menimpa pada anak dengan kasus terbanyak adalah pelecehan seksual dan persetubuhan.

Adapun data kasus Tahun 2018 yang telah terjadi dari bulan Januari-Maret 2018 telah terjadi 59 kasus dimana 42 kasus menimpa pada anak yang sebagian besar adalah kasus seksual.

“Oleh karena itu kami mengapresiasi program sekolah Ramah anak yang telah di gagas oleh Kementrian dan merasa betapa pentingnya program Sekolah Ramah Anak dalam mendukung terciptanya generasi bangsa yang hebat serta mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak di sekolah maupun kekerasan yang dilakukan oleh anak,” jelasnya.

Tentunya Pemkot sangat mendukung program ini dan telah melakukan upaya untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak di Kota Tangsel dengan mewajibkan seluruh sekolah  di Kota Tangsel yang berjumlah 1.187 sekolah untuk melaksanakan program Sekolah Ramah Anak.

Sedangkan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tangsel, Taryono mengatakan, dengan deklarasi sekolah ramah anak, tentunya dapat membangun karakter cerdas.

“Ini bentuk upaya kita dalam rangka membangun generasi cerdas dan berkarakter yakni sekolah ramah anak. Untuk itu harus ada sinergi tiga sentra pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dan, mari stop kekerasan kepada anak untuk memutuskan mata rantai kekerasan di Indonesia,” jelas Taryono.

Senada dengan Dindikbud Tangsel, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPMP3AKB) Khairati, untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak diperlukan kerjasama seluruh pihak.

“Hari ini dilaksanakan deklarasi bersama untuk mewujudkan sekolah ramah anak di Kota Tangsel yang diwakili oleh 14 sekolah. Harapannya agar setelah deklarasi ini dapat secepatnya terwujud Sekolah Ramah anak di seluruh sekolah se- Kota Tangsel,” ungkapnya. (lni/asn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here