PROLOG – Umat islam di seluruh penjuru dunia tuntas sudah menjalankan kewajiban berpuasa sebulan penuh di bulan ramadhan 1439 hijriah.

Kewajiban berzakat telah dilaksanakan, dan kemenangan telah diraih melalui ungkapan gema takbir “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”.

Rangkaian keberhasilan ini di akhiri melalui pelaksanaan sholat berjamaah Idul Fitri 1 Syawal 1439 Hijriah di masjid ataupun di lapangan terbuka.

Dalam mengumandangkan kebesaran Allah Swt muncul perasaan yang bercampur, antara sedih dan gembira seiring dengan perginya bulan suci Ramadhan.

Timbul rasa sedih karena khawatir tidah bertemu lagi dengan bulan Ramadhan yang akan datang.

Namun terpancar rasa gembira dengan harapan, semua amal ibadah kita dilipat gandakan pahalanya oleh Allah Swt.

Secara khusus, saya juga ingin memperlihatkan kondisi dimana belum maksimalnya jumlah zakat yang terkumpul pada akhir Ramadhan di beberapa wilayah

Seharusnya jumlahnya lebih besar lagi, apabila kewajiban zakat ini diimbangi oleh sikap kejujuran dan keperdulian sesama.

RASA SEDIH

Sebagaimana dikatakan dalam Alquran dan Hadist, bahwa kita akan merasa sedih. Apakah kita semua akan berjumpa lagi dengan bulan Ramadhan tahun depan?

Sedih karena selalu teringat beberapa diantara kita, saudara , teman, sahabat, tetangga, atau bahkan suami/istri/anak kita, yang pada tahun lalu berada di tengah-tengah kita, namun pada Ramadhan tahun ini telah wafat meninggalkan kita semua.

Saat ini pun timbul rasa sedih dan khawatir, apakah Allah Swt masih memberi kesempatan hidup diri kita, nantinya pada bulan ramadhan yang akan datang?

Pastinya kita semua masih berharap, Allah Swt masih memberi kesempatan hidup, agar kita dapat lebih mengoptimalkan lagi kualitas dan kuantitas ibadah sholat, zakat, infaq, sodaqoh dan amal kebajikan lainnya.

Bulan suci Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, maghfiroh dan ampunan dari sang maha kuasa, maha bijaksana, maha besar Allah Swt.

Setiap umat islam akan selalu berbuat amal-amal kebaikan, sebagaimana yang dicontohkan baginda rasulullah Muhammad Saw.

Tentunya kita menyadari bahwa amal ibadah kita masih sangat kurang dan kitapun masih selalu hitung-hitungan dalam hal berbuat kebajikan.

Memang penyesalan selalu datang belakangan, dimana ketika kita sadar terhadap kekurangan kita, ternyata bulan ramadhan sudah berakhir.

Contoh nyata amal kebajikan di bulan Ramadhan, dimana ada sebagian dari kita yang masih melalaikan zakat harta/zakat maal.

Kita kadang berhitung secara sangat teliti, ketika akan membayar zakat harta ini. Namun tidah demikian jika dibandingkan dengan belanja/shopping di mall-mall yang selalu melimpah ruah.

Zakat maal penuh hitung-hitungan, namun belanja di mall-mall tanpa hitungan. Kondisi ini merupakan suatu hal yang sangat ironis.

Demikian pula dalam membayar zakat fitrah yang tidak seberapa nilainya, dan kewajiban ini hanya dilakukan satu tahun sekali.

Di dalam membayar zakat fitrah, kita sangat berhitung berapa jumlah jiwa di keluarga kita. Namun kita sama sekali tidak pernah memperhitungkan jumlah fakir miskin di sekeliling kita.

Padahal zakat fitrah ditujukan untuk membersihkan amalan ibadah puasa kita. Dan uang atau beras hasil fitrah ini untuk dibagikan kepada kaum miskin agar mereka turut serta merayakan hari raya idul fitri bersama-sama.

Mungkin hai ini yang menimbulkan rasa sedih dibelakang hari, mengapa kita tidak secara ikhlas memanfaatkan momen bulan ramadhan, yakni membersihkan harta kita dengan cara perduli berbagi kepada sesama manusia yang belum beruntung.

Kita sepakat bahwa sikap perduli dan berbagi ini sudah sesuai dengan sila kelima Pancasila “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

RASA GEMBIRA

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.

Makna ayat di atas jelas bahwa perintah Allah Swt adalah kepada orang yang beriman, untuk wajib berpuasa ramadhan sebulan penuh, agar menjadi manusia bertaqwa.

Taqwa dimaksud adalah menjadikan manusia yang selalu takut berbuat salah kepada Allah Swt, dan sangat menyukai perbuatan kebajikan bagi orang lain.

Berbuat kebaikan wajib dilakukan setiap saat. Namun di bulan Ramadhan, nilai pahalanya dijanjikan Allah Swt berlipat ganda dibandingkan pada bulan-bulan lainnya.

Di bulan  ramadhan selain diwajibkan untuk berpuasa, pada bulan suci ini diturunkannya kitab suci Alquran dan juga turunnya malam lailatul qodar atau malam seribu bulan.

Kita semua tentunya sangat berharap setiap kebajikan di bulan ramadhan sama nilainya dengan ibadah seribu bulan (83 tahun).

Namun tentunya hanya Allah Swt yang dapat memutuskan, apakah diantara kita ada yang mendapatkan malam seribu bulan?

Dalam upaya ke arah itu, momen kebajikan yang dapat dilakukan di bulan Ramadhan tidak terhitung jumlahnya. Bahkan sikap diam dan tidurpun dapat dinilai sebagai ibadah.

Berkata baik dan benar, saling hormat menghormati, sholat wajib dan sunah, berpuasa, membaca Al quran, bekerja keras, berinfaq dan sodaqoh, berzakat (fitrah dan harta), mendengarkan ceramah, sholat berjamaah, adalah beberapa amal kebajikan yang dapat kita lakukan.

Amal ibadah ini untuk meraih nilai pahala berlipat ganda dari sang maha kuasa, sang pencipta, sang penyayang yakni Allah Swt.

Oleh karena itu perasaan gembira ini akan muncul, apabila kita sudah melakukan banyak hal kebajikan tersebut.

Dipastikan bahwa kita semua telah mampu melewati perang melawan hawa nafsu keduniaan yakni melawan kekikiran, keserakahan, hitung-hitungan dalam beramal, tidak perduli terhadap sesama manusia serta sifat dan tindakan yang selalu merasa benar sendiri.

Kemenangan akhir ramadhan tidak akan bisa diperoleh, jika manusia selalu merasa bangga dengan kesalahannya. Kadang kita sebenarnya sudah tahu persis bahwa itu suatu perbuatan yang salah, namun tetap saja kita dilakukan.

Untuk itu, kita semua sepakat bahwa kemenangan dan ketaqwaan hanya dapat diraih oleh orang-orang beriman, yang selalu melakukan kebajikan dengan sikap yang rendah hati.

Sikap kerendahan hati dan ikhlas, yakni setiap kebajikan oleh tangan kanan, bahkan tangan kiripun tidak boleh tahu.

Namun demikian berbuat kebajikan harus terus kita upayakan, karena “sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain”.

KESIMPULAN

Kemenangan dan ketaqwaan dicirikan dengan munculnya sikap keperdulian terhadap sesama manusia.

Sikap seperti ini sangat penting, namun masih sulit direalisasikan oleh setiap insan. Dalam beberapa ayat suci Alquran disebutkan sholat dan zakat secara bergandengan. Berzakat, infaq dan sodaqoh adalah sikap keperdulian yang wajib diwujudkan oleh umat islam.

Di Indonesia saat ini diperkirakan terdapat 200 juta penduduk beragama islam. Jika sepuluh persennya atau 20 juta orang yang dianggap mampu, membayar zakat harta (2,5 %) minimal Rp. 1 juta per tahunnya, maka akan terkumpul Rp 20.000.000.000.000,- (Rp 20 Trilyun).

Jumlah yang cukup untuk mengurangi jutaan penduduk miskin negara ini. Dan NKRI telah memiliki acuannya yaitu sila kelima Pancasila “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Akhir ramadhan adalah hari kemenangan bagi orang-orang beriman, untuk meraih ketaqwaan.

Momen ini sebaiknya dimanfaatkan untuk menumbuhkan sikap keperdulian warga negara yang mampu terhadap warga yang belum beruntung (miskin).

Kita tidak perlu hitung-hitungan yang sangat jelimet, jika ingin beribadah (zakat, infaq dan sodaqoh). Janji Allah Swt sudah pasti bahwa orang-orang mampu yang suka berzakat dan bersadaqoh, tidak akan pernah menjadi miskin.

Dan ingatlah bahwa harta yang banyak namun tidak barokah, tidak akan bisa menolong kita saat kematian tiba.

Oleh karena itu mari kita berlomba-lomba dalam amal kebajikan, dengan segera membayarkan zakat maal/harta secara ikhlas, jujur dan apa adanya, terutama bagi umat islam “kaya” yang belum melaksanakannya.

Rasa sedih ataupun gembira dengan perginya bulan ramadhan, biarlah dirasakan masing-masing sesuai amal ibadahnya.

Inilah esensi keseimbangan hidup, yakni tingkat kualitas hubungan baik sesama manusia, akan menentukan derajat hubungan manusia dengan Allah Swt,  “hablum minannas dan hablum minallah”.

Penulis : Teddy Meiyadi – Ketua BP Masjid Al-Ihtishom Pemkot Tangsel

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here