Sapto Yuli Wanita Difabel Sukses Berwirausaha dan Berpolitik di Partai Berkarya

Memang baru berdiri sejak dua tahun silam. Namun Partai Berkarya yang di komandoi Tommy Soeharto ini tak segan memberikan kepada para penyandang disabilitas atau Kaum Difabel terjun berpolitik. Hal ini yang dirasakan Sapto Yuli Isminarti, Kaum Difabel asal Malang dimana hanya ada segelintir “Partai Politik” yang memperhatikan masalah Kaum Difabel apalagi merangkulnya menjadi anggota partai.

Perlu diketahui sejak didirikan Partai Berkarya ini memang membuka kesempatan kepada semua anak bangsa, termasuk para Kaum Difabel, untuk berpolitik.

Sapto Yuli, wanita pengusaha hijab itu merupakan salah satu kader partai Berkarya dan terdaftar sebagai calon legislatif DPRD Kabupaten Malang untuk daerah pemilihan (Dapil) tujuh. Ia yakin mampu memberi sumbangan pemikiran bagi pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) di Kabupaten Malang.

“Mbak Tutut yang selalu memberi dorongan bahwa keterbatasan fisik bukan halangan untuk berkarya dan berpolitik,” kata Sapto Yuli di Hotel Desa Wisata, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rabu (21/3) kemarin.

Terakhir, dalam dialog dengan anggota Gerakan Bakti Cendana, Mbak Tutut juga kembali memberi dorongan kepada Sapto Yuli untuk bertarung memperebutkan kursi DPRD Kabupaten Malang. Mbak Tutut mengatakan, “buatlah mulai dari hal kecil sebagai bagian membangun pondasi bangsa dan negara”.

Diketahui Sapto Yuli lahir dari keluarga miskin, dan dia bersyukur pernah hidup dalam jerat kemiskinan. Meski berstatus sebagai Kaum Difabel, Ia berusaha keras keluar dari jenjang kemiskinan dengan menjadi produsen hijab dan kerudung.

“Dari era Presiden Soeharto sampai saat ini masalah terbesar bangsa kita adalah kemiskinan,” kata wanita pengguna kaki palsu itu.

“Keluarga saya juga saya miskin, namun saat ini saya bisa keluar dari kemiskinan itu”

Menurut Sapto Yuli, upaya keluar dari kemiskinan dimulai dengan berkarya, mendesain hijab dan kerudung, serta memproduksinya. Ia memenangkan banyak order pengadaan hijab, kerudung, t-shirt dan jaket dari berbagai organisasi.

“Kaum Difabel miskin itu pasti terpinggirkan, tapi jika punya semangat dan kemauan berkarya siapa pun bisa keluar dari kemiskinan,” katanya lagi.

Sapto Yuli memimpikan kaum difabel di Indonesia bisa memperlihatkan karya di bidang apa saja. Di sisi lain, pemerintah agar lebih peduli pada kaum difabel.

“Negeri kita sudah mulai ramah kepada kaum difabel, terutama di kota besar,” ujar wanita berusia 46 tahun itu. Namun, katanya dibanding negara lain, Indonesia masih tertinggal sangt jauh.

Ia juga menyebut Sydney, salah satu kota di Australia, yang memiliki jaringan braille dan tanda tactile atau penunjuk jalan untuk orang yang memiliki gangguan penglihatan paling luas di dunia.

Menjawab pertanyaan wartawan soal kenangan era Presiden Soeharto, Sapto Yuli mengungkapkan dirinya terinspirasi program pemberdayaan masyarakat yang dicetuskan pada masa pemerintahan Presiden Suharto, yakni Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa (Kelompencapir) yang tak lain kegiatan pertemuan untuk petani dan nelayan di Indonesia.

“Sekarang saya namakan saja Sarasehan Masyarakat Keliling,” kata dia. Saat itu, lanjut Sapto Yuli, ia berkunjung ke daerah-daerah mengajarkan Kaum Difabel berwirausaha. “Saya katakan kepada rekan sesama Kaum Difabel, jika saya bisa berwirausaha kalian juga bisa,” imbuhnya.

Menurut Sapto Yuli, keinginan terbesar dalam hidupnya adalah memperjuangkan program Pak Harto dalam mengentaskan kemiskinan lewat pemberdayaan masyarakat, pola hidup sehat, dan mandiri.

“Indonesia harus keluar dari label negara miskin. Kita kuat karena kita memiliki sifat gotong royong, jika secara bersama-sama menberdayakan masyarakat dengan pola hidup sehat, dan mandiri Insya Allah, negara kita keluar dari label negara miskin dunia,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here