GMNI dan HMI Pertanyakan Kasus Dugaan Money Politic Caleg PDIP Ke Bawaslu Tangsel

METROTANGSEL.COM, Serpong РBelasan mahasiswa UIN Jakarta yang tergabung dalam GMNI dan HMI, Kamis (2/1/2019), mendatangi kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Tangsel di jalan Alamanda  Blok K No 1 Griya Loka, BSD, Sektor 1-2 Serpong.

Kedatangan mahasiswa tersebut itu untuk mempertanyakan tindak lanjut kasus dugaan money politik yang dilakukan caleg PDIP di wilayah Lengkong Wetan, Serpong, saat hajat pemilu 2019 berlangsung, beberapa waktu lalu.

Sayangnya, para mahasiswa yang awalnya hendak berdemonstrasi di depan kantor Bawaslu itu harus menahan kecewa lantaran urung dilakukan karena tidak mengantongi ijin dari pihak kepolisian.

Meski demikian, mereka tetap diterima dengan baik oleh pihak Bawaslu untuk menyampaikan aspirasi mereka.

Salah seorang mahasiswa UIN Jakarta yang tergabung dalam GMNI, Arif Adityo menegaskan, mereka sebagai mahasiswa dan warga memang sengaja mempertanyakan kelanjutan berbagai kasus dugaan money politic kepada Bawaslu.

Koordinator GMNI Arif Adityo (kemeja putih) bersama Ketua Bawaslu Tangsel M Acep (kiri) saat menjelaskan kasus dugaan money politic yang ditangani Bawaslu kepada wartawan.

Koordinator GMNI Arif Adityo (kemeja putih) ditemani Ketua Bawaslu Tangsel M Acep (kiri) saat menjelaskan kasus dugaan money politic yang ditangani Bawaslu kepada wartawan.

“Pertanyaanya sejauh mana tindak lanjut dan nasib kasus yang ditangani Bawaslu untuk berbagai kasus yang dilaporkan, terutama dugaan money politic,” katanya ditemui usai bertemu Ketua Bawaslu.

Kata Tyo panggilan Arif Adityo, dari hasil pertemuan dengan Bawaslu mereka disarankan untuk membuat atau melakukan korespondensi resmi ke Bawaslu untuk lebih jelasnya, karena kalau secara oral akan menimbulkan salah tafsir.

“Disarankan untuk mengirim surat ke Bawaslu untuk pertanyaan-pertanyaan kasus yang dilaporkan. Dan kita akan melakukan itu,” tegasnya.

Di tempat sama, Ketua Bawaslu Tangsel M Acep mmengatakan pihaknya sudah mengetahui maksud dan tujuan dari kedatangan para mahasiswa tersebut.

Namun demikian, Acep juga menjelaskan bahwa mahasiswa yang datang itu bukanlah pelapor atau terlapor.

“Kita jelaskan kepada mereka bahwa Bawaslu terbuka atas saran dan kritikan dari masyarakat. Kita juga berterimakasih karena kinerja kita diawasi. Namun, untuk kasus (yang dituntut mahasiswa ini), kami sarankan melakukan korespondensi ke Bawaslu secara tertulis biar lebih jelas. Dan Bawaslu akan menjawabnya dengan tertulis juga. Kalau secara lisan, khawatirnya menimbulkan salah paham dan multitafsir,” tandas Acep (sam/asn)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here