Keterwakilan 30 Persen Perempuan di DPRD Tangsel Belum Terpenuhi

METROTANGSEL.COM, Serpong – Keterwakilan 30 persen anggota legislastif perempuan di DPRD Tangsel tidak terpenuhi.

Namun demikian, jumlahnya mendekati angka ambang batas yakni 13 orang. Artinya, meningkat drastis dari tahun-tahun sebelumnya yang selalu berada dibawah angka 10 orang.

Bakal anggota dewan perempuan ini tersebar di semua daerah pemilihan (dapil). Kebanyakan dari mereka wajah baru. Sementara hanya ada 3-4 orang wajah lama yang kembali terpilih.

Metrotangsel.com mencoba merangkum nama-nama bakal anggota dewan perempuan di DPRD Tangsel.

Antara lain Li Claudia Chandra, Paramitha Masayu, (Gerindra), Sri Lintang Rosi, Shanty Indriaty dan dr Shinta (PKS), Marlena, Nurhayati Yusuf, (Demokrat), Eva Puspita, Syariah, (Golkar), Putri Ayu, Made Laksmi, Ledy M P Butar butar (PDIP), Rohani Amin (PKB).

Pengamat politik dari UIN Jakarta Djaka Badranaya kepada metrotangsel.com, Selasa (14/5/2019) mengapresiasi penuh keterpilihan caleg perempuan ini. Meskipun, kata dia, belum memenuhi 30 persen.

“Itu sangat positif mereka bisa terpilih, dan jumlahnya juga mendekati 30 persen” kata Djaka melalui pesan whatsapp.

Lanjut Djaka, sebagai anggota dewan perempuan, mereka kelak harus menunjukan eksistensi kinerja sehingga tidak dipandang sebelah mata.

“Utamanya, menyuarakan kaum perempuan dan kepentingan rakyat Tangerang Selatan,” tandasnya.

Salah seorang caleg yang diprediksi lolos, Li Claudia Chandra menegaskan, dirinya melihat masih banyak hal yang harus diperbaiki di Kota Tangsel, terutama soal kebijakan-kebijakan pro perempuan.

“Perempuan bukan hanya sebagai pelengkap 30% kuota yang di tetapkan UU, namun harus tampil lebih menyuarakan aspirasi politik,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, sudah 2 periode keterwakilan perempuan di legislatif Tangerang selatan masih kurang dari kuantitas maupun kwalitas.

Sehingga sampai hari ini tidak keluar kebijakan kebijakan yang benar benar pro perempuan.

“Saya melihat saat ini kebijakan yang pro terhadap perempuan sangat minim, sehingga perlu ada perubahan untuk melahirkan banyak kebijakan yang pro terhadap perempuan. Apa lagi kita sama-sama tahu kalau saat ini perempuan bukan lagi sebagai objek pasif saja dalam pembangunan daerah, tetapi sudah sangat aktif. Sehingga perlu ada regulasi khusus yang bisa mendukung setiap pergerakan perempuan di Kota Tansel agar memberikan warna lebih baik bagi kota kita ini,” akunya.(sam/asn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here