Kunjungi Rumah Korban “Hap” oleh Guru Privatnya, P2TP2A Siapkan Trauma Healing

Ilustrasi

METROTANGSEL.COM, Serpong – Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Tangsel, Herlina Mustika Sari mengutuk keras aksi pencabulan anak dibawah umur yang dilakukan IM (24), terhadap korban JEA (15).

Menurut Herlina, sebagai seorang mentor, kelakuan IM sudah melampaui batas manusiawi.

Bahkan sudah menjurus pada predator anak, mengingat aksinya dilakukan berulang-ulang selama dua tahun. Dari umur korban 13 tahun hingga menginjak usia 15 tahun.

“Tragedi yang sangat memprihatinkan. Guru yang harus melindungi anak, justru memangsa si anak. Sungguh diluar batas manusiawi seorang manusia,” ungkap Herlina, yang dikonfirmasi metrotangsel.com, Sabtu (28/6) pagi.

Guna mencegah korban kelak menjadi “pelaku”, pihaknya dalam waktu dekat ini akan mengunjugi rumah korban, bersama jajaran Polres Tangsel.

“Tujuanya memberikan trauma healing kepada korban utamanya, dan keluarga si anak,” katanya.

Karena bagaimanapun, keluarga pun akan mengalami trauma berkepanjangan. “Kita akan kunjungi korban di rumahnya,” tegas Ketua Magma Tangsel ini.

Lanjut Herlina, rasa traumatik pada korban kekerasan seksual, tentunya akan meninggalkan luka didalam tubuh yang tidak nampak dari luar. 

Edan, Selama Dua Tahun Guru Bimbel Ini “Hap” Kemaluan Anak Muridnya

Munculnya Paslon Independen di 2010, Akan Sulit Terulang di Pilkada 2020

Jika tidak disembuhkan, sambung Herlina, akan menjadi beban terhadap korban yang akan menghambat perkembangannya seumur hidupnya. 

“Bisa juga timbul keinginan melakukan hal sama kemudian hari jika tidak ditindaklanjuti dengan trauma healing salah satunya,” tambahnya.

Sambung Herlina, lamanya pemulihan atas traumatis pada setiap individu tergantung kualitas, kuantitas kekerasan yang diterima korban selama ini dan juga tergantung self esteem korban.

“Selain itu bantuan keluarga dan lingkungan juga diperlukan untuk mengatasi trauma ini,” tegas dia lagi.

Karena itu, sangat penting untuk stiap keluarga menciptakan komunikasi yang baik antar anggota keluarga, guna menghindari anak tidak mau menceritakan kekerasan atau apapun yang diterimanya. 

“Dengan demikian, segala hal yang dialami anak, baik berupa ancaman dan lain lain dari pihak luar, anak tanpa segan akan menceritakannya,” tuntasnya.(sam/asn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here