Ini Dia Calon Jamaah Haji Tertua di Tangsel, Umurnya Genap Seabad

Saanih

METROTANGSEL.COM, Setu – Keberangkatan kloter pertama calon jamaah haji Kota Tangsel sudah diketahui, yakni Selasa (16/7) depan. Salah satu yang berangkat itu yakni nenek Saanih.

Istimewanya, nenek Saanih merupakan calon haji tertua dengan usia genap seabad atau 100 tahun. Meski dalam data kependudukan, dia tercatat berusia 89 tahun.

Ditemui metrotangsel.com, di rumahnya di RT 002/03 Nomor 14, Kelurahan Kademangan, Setu, Rabu (16/7) petang, nenek Saanih terlihat sudah cukup sepuh. Nenek Saanih dikaruniai delapan orang anak, cucu serta cicit mencapai 50 orang lebih.

Meski demikian, ingatannya terkait sejarah perjuangan seperti masih berusia muda. Dari obrolan petang itu, ingatanya tak terlihat mengendur apalagi pikun.

Hanya saja, dari sisi pendengaran, sudah berkurang. Sehingga, ketika ngobrol dia dibantu alat pendengar. Istri dari almarhum Alwi bin Sayid Ali begitu senang akhirnya bisa menunaikan rukun Islam ke-5.

Ditemani anaknya yang ke-4 Ibrahim, dia tidak henti-hentinya mengucap syukur Alhamdulillah, karena akhirnya bisa naik haji.

“Alhamdulilah ya Allah, terimakasih atas nikmat dan karunia-Mu, nenek bisa pergi haji. Kapan berangkatnya,” tanya nenek Saanih berulang.

“Jaman Jepang, jaman kompeni (Belanda) saya sudah berumur 15 tahun. Udah gadis saya,” kata Nenek Saanih mengingat umurnya.

Usia senja, nenek Saanih cukup beruntung. Pasalnya, dia merupakan calon haji prioritas dilihat dari sisi umur. Dia mendaftar haji pada 2015 silam dan berangkat 2019 ini.

Setahun sebelumnya, dia bahkan pernah mendapat doorprize mobil dari undian sebuah bank. “Saya mah rutin bayar pajak mobilnya,” kata nenek Saanih terkekeh.

Nenek Saanih secara ekonomi cukup mapan. Hal itu terlihat jelas komplek perumahan yang dihuni seluruh anak cucunya.

Cukup dimaklumi, karena sebagai istri dari seorang saudagar asal India, tanah yang kini dihuni mereka adalah peninggalan almarhum dari jaman penjajahan dulu. Suaminya meninggal sekitar tahun 1977 silam.

Berangkat haji, nenek Saanih tidak membawa bekal banyak. Hanya keperluan baju layaknya calon haji. Tidak ada makanan khusus yang dipacking.

“Emang harus bawa apa atuh? Saya mah pakaian saja. Ga ada bawa-bawa apa,” tutur nenek Saanih lagi.

Benyamin : Budaya Kebersihan Akan Dijadikan Muatan Lokal

“Naik haji rasanya syukur bangat. Alhamdulillah,” ucap nenek Saanih.

“Palingan yang diminta khusus ibu, minyak kelapa. Katanya buat gosok kepalanya enak, kalau lagi sakit kepalanya,” timpal anaknya, Ibrahim (65).

Dikisahkan Ibrahim, rahasia ibunya sehingga tetap terlihat bugar diusia senjanya, semasi muda konon sangat rutin minum air godok (air rebusan) utamanya yang rasanya pahit.

Angka Pengangguran di Tangsel Setiap Tahun Berkurang, Terendah se-Banten

“Ibu rutin minum air godok. Sekarang saja sudah sepuh ga ke kebun. Dulu mah hampir setiap hari ke kebun. Cari tanaman yang bisa diminum. Ibu yang tahu segala jenis tumbuhan yang bermanfaat untuk kesehatan,” lanjut Ibrahim.

Sebagai seorang anak, Ibrahim (65) hanya berdoa untuk kesehatan orangtuanya, selama berada di Mekkah menjalankan ibadah haji.

Begitu juga saudaranya yang menemani nenek Saanih selama di Mekkah. “Kalau Allah berkehendak lain, ya kita harus terima.

Tapi kita selalu berdoa, untuk kesehatan dan keselamatan ibu. Bisa pulang kembali berkumpul bersama anak-anaknya sepulang dari haji,” tutup Ibrahim.(sam/asn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here