SMA di Tangsel Dijadikan “Sapi Perah” Oknum Pejabat hingga LSM

METROTANGSEL.COM, Serpong – Pendaftaran dan penerimaan siswa baru jenjang SMA beberapa waktu lalu menguak fakta mencengang.

Sebagian besar sekolah tingkat SMA di Tangsel, ternyata banyak dijadikan “sapi perah” oleh oknum pejabat maupun LSM asal Banten.

Menurut pengakuan salah seorang kepala SMA di Tangsel yang enggan disebutkan namanya, pada PPDB kemarin, pihak sekolah benar-benar ditekan dan digempur habis-habisan agar mau menerima siswa “titipan” oknum LSM yang mendadak hijrah dari Banten ke Tangsel.

Bahkan di salah satu sekolah di Serpong Utara, disinyalir semua unsur terlibat praktek culas ini.

“Mereka memanfaatkan kedekatan dengan orang yang sangat berkuasa di Pemprov Banten. Berbekal surat rekomendasi dari kedekatan ini, kita ditekan habis agar menerima siswa titipan mereka,” ungkap salah satu sumber metrotangsel.com, kemarin.

Kepala sekolah yang tidak sanggup menahan tekanan itu, bahkan mengaku harus dirawat beberapa hari di rumah sakit.

“Saya masih capek, masih dirawat sekarang. Gila ini PPDB, tekanannya benar-benar parah ke kita, kepala sekolah. LSM se Banten pindah ke Tangsel,” ketus dia.

Ditanya apakah sekolah memiliki bukti surat rekomendasi yang dimanfaatkan oleh oknum LSM ini, sumber metrotangsel.com mengaku banyak bangat. Dan bukti itu sudah diprint out sebagai bukti bahwa sekolah ditekan habis-habisan.

“Banyak buktinya. Saya minta panitia PPDB simpan seluruh surat rekomendasi yang dimanfaatkan kemarin,” urainya.

Lanjut sumber ini, surat rekomendasi yang dijadikan alat “sapi perah” ini sudah diminta dan diserahkan kepada Inspektorat Pemprov Banten.

“Akibat jumlah siswa ditambah, dua ruangan dibsekolahan saya harus diubah untuk ruang kelas untuk menampung siswa titipan ini,” tuturnya.

Pemerhati Pendidikan Tangsel, Irwan Suhartono mengaku miris dengan PPDB tahun ini. Penuh praktek keculasan dan diskriminasi.

Menurut pengakuan dosen Unpam ini, cslon siswa yang seharusnya berdasarkan zonasi masuk, malah terlempar tidak diterima.

“Aneh bin ajaib. Calon siswa yang radius rumahnya hanya 700 meter dari sekolah, malah tidak diterima. Kenapa dan ada apa sesungguhnya kalau bukan karena praktek culas ini,” ungkap dia kesal.

Lanjut Irwan, PPDB seolah-olah menjadi ladang oknum pejabat ataupun LSM mengais rezeki dengan siswa titipan. “Masa iya mau pejabatnya keluarkan surat rekomendasi kalau ga ada bayaranya,” sambungnya.

Karena itu, dia sangat berharap pihak Ombudsman ataupun pihak berwenang lainnya turun tangan menyelidiki pelaksanaan PPDB di Tangsel kemarin, agar praktek culas itu terbongkar.

“Saya berharap Ombudsman ataupun siapapun yang berwenang menyelidikanya. Jika ini dibiarkan, akan terulang kembali pada tahunvberikutnya,” tutupnya.(sam/asn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here