Biar Engga jadi Ladang Bisnis Sampingan, Dewan Pendidikan Sarankan Dindikbud Buat LKS Sendiri

Ketua Dewan Pendidikan Tangsel, Ngatmin Al Arif

METROTANGSEL.COM, Setu – Mencuatnya dugaan jual beli Lembar Kerja Siswa (LKS) di beberapa sekolah dasar seperti membangunkan Dewan Pendidikan.

Ketua Dewan Pendidikan Tangsel, Ngatmin Al Arif mengaku, anggaran LKS memang tidak dicover dalam Dana BOS seperti halnya buku paket. Namun bukan berarti, LKS bisa dijualbelikan kepada walimurid.

“Setahu saya LKS tidak dicover BOS, tidak seperti buku. Setahu saya ya. LKS tidak boleh diperjualbelikan. Tidak boleh itu,” jelas Ngatmin, yang ditemui metrotangsel.com, usai mengisi acara di SMKN 3, Senin (29/9).

Sejatinya, LKS bisa dibuat sendiri oleh guru melalui pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan setempat, sehingga LKS tidak lagi menjadi lahan “bancakan” jual beli oknum sekolah dengan distributor.

Nantinya, LKS yang sudah dibuat guru, bisa diperbanyak sendiri melalui kertas yang anggaranya tercover dari buku tadi. Sehingga bisa dibagikan gratis kepada siswa.

“Latih gurunya. Dinas Pendidikan silahkan membuat LKS dengan melatih gurunya. Yang benar itu, LKS dibuat oleh gurunya. Keuntunganya, guru lebih kreatif kalau LKS dibuat sendiri,” urainya.

“Mungkin menurut saya, guru sudah punya Kemampuan membuat LKS ini. Tapi apakah Dinas Pendidikan memberikan ruang atau wahana untuk menyusun itu, saya engga tahu ya,” tambahnya.

LKS Bukan Kumpulan Soal-soal

Ngatmin mengaku, yang selama ini diamati olehnya, pemahaman terkait LKS salah kaprah. LKS lebih dianggap sebagai “lembar kumpulan soal-soal”.

“Itu salah. Yang benar, LKS adalah lembaran kerja siswa untuk menemukan konsep, bukan kumpulan soal,” tegasnya.

Karena itu, sekali lagi dia menyarankan Dinas Pendidikan melatih guru menggarap LKS ini. “Kalau Dinas Pendidikan merada tidak bisa, ya libatkan Dewan Pendidikan,” sarannya.(sam/asn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here