Modus Jual Beli LKS Libatkan Tukang Sayur hingga Penjaga Kantin

ilustrasi

METROTANGSEL.COM, Serpong – Isu jual beli Lembar Kerja Siswa (LKS) di sejumlah sekolah dasar negeri di Kota Tangsel, ternyata bukan praktek baru.

Pasalnya, setiap tahun praktek semacam itu kerap dikeluhkan. Modusnya saja yang berbeda. Salah satu contohnya, dugaan jual beli LKS di SDN 01 Bambu Apus, baru-baru ini.

Wakil Ketua Ketua Komisi II DPRD Tangsel Sri Lintang mengaku, pihaknya sudah mendengar adanya isu jual beli LKS ini.

Bahkan tahun lalu, kata legislator asal PKS ini, pihaknya juga mendapatkan laporan dari masyarakat jika jual beli LKS pernah melibatkan pihak ketiga seperti tukang sayur.

“Iya, meskipun gak langsung ke saya (dugaan jual beli LKS, red) ngomongnya lewat komisi lain. Dan katanya sudah ga da lagi, tapi kalau sekarang ada lagi, berarti tidak ada ketegasan dari dinasnya,” kata Sri Lintang melalui sambungan telp selular, Selasa (30/7).

Komisi II dalam hal seperti menagih janji Dinas Pendidikan dan Pemkot Tangsel dalam memberantas dugaan jual beli LKS ini. Begitu juga dengan saber pungli, harus lebih merata lagi sebaranya.

“Yang saya bilang di sebelumnya, harusnya ada ketegasan dari dinasnya sendiri, good will dari pemkot,” jelasnya.

“Makanya saber pungli di Tangsel harus berfungsi dengan baik, yang utama harus dihapuskan memang pungli,” tambahnya.

Sebelumnya, mencuat dugaan jual beli LKS di SDN 01 Bambu Apus, Pamulang. Modusnya, LKS dijual lewat penjaga kantin dengan total harga Rp 120-150 untuk 10 LKS dan buku paket.

Kepala SDN Bambu Apus 01, Maman menampik dugaan itu. Iya mengaku kemungkinan ada distributor yang menitip bukubke kantin tanpa sepengatahuan dia.

“Sudah dikembalikan ke distributornya, mungkin ada yang beli, uangnya dikembalikan lagi. Saya ga tau distributor nitip buku ke kantin,” kata Maman melalui pesan whatsApp.(sam/asn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here