Hidup Dihimpit Kemiskinan di Rumah Reot, Janda 4 Anak Ini “Diejek” Perumahan Mewah

Rumah tinggal Yekah, di Kampung So, RT 004/02, Rawa Mekar Jaya, Serpong, Tangsel.

METROTANGSEL.COM, Serpong – Miris! Tidak ada kata yang pantas disematkan untuk melukiskan kesedihan serta kontrasnya kehidupan Yekah (38), janda empat anak ini. Bersama anak-anaknya, Yekah hanya bisa memandang rumah mewah yang mengelilingi rumah reotnya.

Rumah-rumah seharga miliaran itu, tersenyum kecut mengejek kemiskinan Yekah. Sangat kontras dengan kondisi dia. Harga rumah di komplek Nusa Loka BSD, tidak ada yang dibawah Rp 1 miliar.

Lagi-lagi, rumah-rumah mewah berlantai dua ini menang. Yekah kalah. Kalah dalam kemiskinan nasib yang menghimpitnya. Rumah mewah menang dengan angkuh memandang gubuk reot Yekah yang sangat tidak layak huni.

Jika Yekah membayangkan memiliki rumah seperti tetangga kayanya ini, setidaknya Yekah harus mengumpulkan ribuan gubuk reot seperti yg ditempatinya kini untuk dijual. Itupun jika ada harganya.

Untuk mencapai rumah reot Yekah, setidaknya kita harus melalui jalan di dalam perumahan Nusa Loka. Di penghujung jalan perumahan, di samping rumah mewah warga, itulah akses jalan menuju rumah Yekah. Jalan sempit. Motor pun bisa lewat menuju rumah Yekah.

Ditinggal Mati Suami, Tinggal Bersama Anak dan Orangtua

Yekah menempati rumah berukuran 6×6 dengan kondisi nyaris ambruk. Ia menjadi janda setelah ditinggal mati suaminya, tukang ojek akibat penyakit liver yang lama dideritanya.

Dia kini, harus banting tulang membesarkan keempat anaknya. Erika Safitri (19), Nabila Firna (12), Ananda Fikri Firmansyah (3) dan M Fahri (2). Sementara ibu Yekah, Khofifah (64), tinggal di rumah petakan satunya lagi.

Kamis (1/8), metrotangsel.com berhasil menyambangi rumah tinggal Yekah, di Kampung So, RT 004/02, Rawa Mekar Jaya, Serpong, Tangsel.

Pertama kali menginjakan kaki di lokasi, kita langsung disuguhkan pemandangan yang menguji rasa kemanusiaan kita.

Tidak ada bangku atau sofa empuk untuk menyambut tamu. Hanya ada kursi plastik bekas, yang kondisi nya juga sudah lumayan kumuh.

“Silahkan mas. Cari siapa” terdengar suara dari dalam menyambut kedatangan metrotangsel.com.

Atap depan rumah Yekah masih nampak berbentuk. Tapi ketika menengok kedalam, kita langsung bisa memandang langit, tidak ada atap. Hanya beberapa triplek dan seng sebagai penahan. Itupun hampir rubuh.

“Sebisa saya saja mas tambalin sengnya. Emang ga ada yang diandalin. Bapaknya anak-anak sudah lama meninggal,” jelas Yekah disela menunjukan metrotangsel.com kondisi rumahnya.

Dapur dan Kamar Mandi Menyatu, Tanpa Ada Pintu

Dari halaman depan rumah Yekah, kita langsung bisa melihat isi dapurnya. Masih beralaskan tanah. Rak piring diposisikan di pinggir kiri. Hampir menyatu dengan kamar mandi tanpa pintu.

Jika mau mandi, hanya bisa ditutupi seng. “Kalau lagi ada orang, ga boleh lihat kedalam. Kan kelihatan dari luar. Tutupnya begitu aja, seng. Nyatu sama dapur juga,” kata Yekah lagi.

Rumah itu berdiri di atas lahan warisan orangtuanya. Hanya itu yang dia miliki. Salah satu adiknya, tinggal di sebelah kiri Yekah. Kondisi rumahnya agak bagus.

Sudah berbentuk batako. Hanya bagian luar tentunya. Bagian dalam, masih berantakan. Sedangkan adik Yekah satu lagi, hidup ngontrak sendiri. “Ini tanah warisan bapak. Masih atas nama bapak. Belum bisa balik nama. Uang ga ada untuk bayarnya,” sebut Yekah.

Jauh dari Perhatian Apalagi Bantuan Pemerintah

Selama ini, Yekah hanya bisa berharap ada bantuan dari siapapun yang merasa iba pada nasib mereka. Program bedah rumah dari Pemkot Tangsel, seperti dirasakan kebanyakan keluarga tidak mampu, masih menjauhi Yekah serta anak-anaknya.

“Kalau dari RT ya begitu aja. Sementara kalau dari kelurahan, sering ke sini dulu. Mereka hanya foto-foto rumahnya. Datang segerombolan, foto-foto. Habis itu ga tahu kemana lagi,” sebut Yekah.

Kini, Yekah sangat berharap nasib baik menghampirinya. Anak-anaknya bisa tumbuh dan sekolah kelak. Apapun bentuk bantuanya, diterima dengan ikhlas.

“Saya mah terserah saja. Ada bantuan alhamdulillah, ga juga ya ga apa-apa. Kita mah orang miskin, kaga bisa nuntut,” cerita Yekah yang sehari-hari kerja sebagai tukang cuci di salah satu perumahan elit ini.

Dengan usia anak yang masih sangat panjang, Yekah kini berharap siapapun bisa membantunya. Tidak lagi dijanjikan. Dia seolah tidak percaya pemerintahan, karena sering kali hanya dijanjikan omong kosong.

“Kemarin katanya ada yang mau bangunin. Ukuranya 4×4 meter, dari pengurus mushala informasinya. Saya mah alhamdulillah. Siapapun yang mau bantu,” tutup Yekah.(sam/asn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here