Membayangkan Indonesia dari Ciputat

TAHUN 80-an Emha Ainun Nadjib pernah menulis sebuah esai yang secara nakal ia beri judul ‘Indonesia Bagian dari Desa Saya’.

Cak Nun menceritakan betapa beragamnya manusia yang hidup di desa tempat kelahirannya itu, serta betapa ia bisa melihat wajah Indonesia yang paling sejati dari sana.

Desa, bagi Cak Nun, adalah pusat peradaban Nusantara. Di sana tanah diolah, air dijaga, hutan dilindungi, dan udara dihormati.

Indonesia adalah bagian kecil dari seluruh aktivitas agung dan mewah yang terjadi di desa-desa. Indonesia adalah sebuah imajinasi.

Ia terbentuk dari gagasan yang menghimpun kesadaran kolektif masyarakat Indonesia lintas suku, adat, budaya. Bennedict Anderson menyebutnya sebagai ‘an imagined society’, komunitas yang terbayangkan.

Indonesia adalah sebuah entitas, ruang, tujuan, atau apapun itu yang dibayangkan oleh seluruh masyarakat bangsa ini.

Segala nilai dan warisan peradaban dittipkan pada imajinasi itu. Praksisnya ada di kehidupan sehari-hari. Termasuk di desa-desa.

Maka rasanya tak berlebihan jika Cak Nun menyebut bahwa ‘Indonesia adalah bagian dari desa saya’.

Di Ciputat, Tangerang Selatan, kita bisa melihat Indonesia yang lain. Mobil-mobil mewah mengantre rapi di jalanan yang macet, sementara trotoar disesaki sampah dan debu kendaraan bermotor.

Orang-orang menggunakan baju yang bagus, menggenggam handphone mahal, sambil kesulitan menyusuri pedestrian.

Pemuda-pemuda desa dari Sabang sampai Merauke, mengular masuk kampus atau nongkrong di gerai-gerai minimarket serta restoran makanan cepat saji yang ber-AC. Di sana, wajah Indonesia hari ini adalah bagian kecil dari realitas sehari-hari.

Di Ciputat, berapa banyak anak muda yang bicara tentang Indonesia? Berapa banyak masyarakat yang peduli apa kata dunia tentang Nusantara? Tidak banyak. Sebab Indonesia barangkali hanya bagian kecil dari daerah itu.

Indonesia adalah imajinasi yang membelum — untuk mengatakan tidak terlalu penting — di tengah masyarakat yang belum selesai dengan diri mereka masing-masing.

Barangkali kita harus berangkat dari logika ini jika ingin membangun sebuah tatanan kota bahkan negara yang lebih maju. Bahwa jangkar kehidupan ada di desa-desa.

Bahwa masa depan negeri ini ada pada komunitas-komunitas kecil yang nyata di keseharian masyarakatnya.

Kegagalan mengurusi komunitas itu, menjadikan Indonesia bagian dari ruang sosial yang kecil namun nyata, bisa membuat kita putus asa pada Indonesia itu sendiri.

Mau dibawa ke mana gagasan Indonesia ini? Hari ini dunia percaya bahwa masa depan ada pada komunitas.

Investasi besar seharusnya dilakukan di level komunitas. Perhatian paling serius harus dimulai dari skala-skala terkecil: RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kota, dan seterusnya.

Jika ingin menyelesaikan masalah sampah kota, misalnya, mulailah dari level RT atau RW. Jika ingin mengurai kemacetan sebuah kota, tanyakan kepada warga dan komunitasnya apa yang mereka harapkan? Jika ingin membersihkan udara kota, mulailah menanam pohon dan mengurangi emisi kendaraan bermotor dari skala yang terkecil.

Saya teringat pelajaran di pesantren dulu ke+ka membahas kitab-kitab yang ditulis Syaikh Nawawi al-Bantani.

Dalam kitab berjudul ‘Nihayatuz-Zayn’, secara eksplisit Syaikh Nawawi menyebut ‘Tanara’ sebagai tanah airnya (at-tanari baladan).

Dulu saya terheran-heran mengapa Syaikh Nawawi menerapkan konsep negeri/negara (biladun/baldan) pada kampung halamannya? Barangkali ketika itu Tanara sudah memiliki kehidupan masyarakat yang kompleks, seperti sebuah negara. Sebenarnya Tanara adalah salah satu desa kecil di Serang, Banten.

Di kitab tadi, Syaikh Nawawi menceritakan betapa ia sangat mencintai tanah kelahirannya itu.

Kini saya tahu bahwa melihat sebuah negara, sebuah bangsa, bisa kita kerjakan dari level komunitas. Dari level kampung.

Seperti bagaimana Syaikh Nawawi melihat Indonesia dari Tanara. Dalam kitab lain, Kasyifatus-Saja’, Syaikh Nawawi secara eksplisit menyebut Banten sebagai tempat tinggal (al-Bantani iqliman) dan menyebut Tanara sebagai rumah tempat bertumbuh (at-tanari mansya-an wa dar-an).

Lalu tak lupa ia pun menulis kata ‘Jawi’. Menyebut Tanara, Banten, dan Jawa dalam kitab-kitabnya, Syaikh Nawawi telah mengenalkan kampung halaman yang dicintainya ke dunia Islam yang luas di seluruh dunia (melalui kitab-kitabnya, pengajaran-pengajarannya, dan murid-muridnya).

Kitab-kitabnya diterbitkan di Mesir, Beirut, Lebanon, bahkan sekarang di hampir seluruh penjuru dunia. Ia ingin dunia tahu tentang Tanara, tentang Banten, tentang Jawi, tentang Nusantara. Betapa ia membanggakannya.Saya kira kita bisa meniru spirit ini.

Melakukan kerja-kerja besar untuk Indonesia seringkali terdengar terlalu ambisius dan agak jauh dari jangkauan. Tetapi rupanya kita bisa memulainya dari skala yang lebih kecil dulu.

Kita bisa mengerjakannya dari desa, kelurahan, dan kecamatan kita. Kita bisa memulai dengan menanam rasa bangga dari desa tempat tinggal kita. Ya, kita bisa membuat prestasi-prestasi besar tentang kota, yang membanggakan Indonesia, bahkan hanya dari Ciputat!

FAHD PAHDEPIE – Staf Ahli Presiden RI, Tinggal di Tangsel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here