Mahasiswa Papua Muslim di Ciputat Tuntut Kebebasan Berekspresi Tidak Dibatasi

METROTANGSEL.COM, Ciputat – Komunitas Santri Pelajar dan Mahasiswa Muslim Papua (Kosapmaja) Tangerang Selatan (Tangsel), menyampaikan beberapa sikap terkait kericuhan di Manokwari, Papua Barat dan Jayapura, Papua yang terjadi hari ini, Senin (19/8).

Satu di antaranya, adalah terkait kebebasan berekspresi mahasiswa asal Papua yang tersebar di seluruh Indonesia.

Seperti diketahui, pemantik kericuhan di Papua dan Papua barat adalah ujaran rasis terhadap mahasiswa Papua di Surabaya.

Fajar Cuan, Sekretaris Kosapmaja Tangsel, menarik konteks represif dengan umpatan rasis itu ke hal yang lebih luas, yakni kebebasan berekspresi dan berkumpul.

Fajar mengatakan, mahasiswa asal Papua kerap mendapat tindakan represif saat hendak mengadakan diskusi atau perkumpulan.Ia menceritakan beberapa kasus di kota besar di Indonesia, khususnya wilayah Jawa.

“Baru-baru ini, di Bandung, kita mau diskusi soal Papua saja ormas dan polisi langsung masuk,” ujar Fajar di Asrama Mahasiswa Papua di Ciputat Timur, Tangsel.

Padahal, diskusi tersebut membicarakan tentang pembangunan ekonomi di Papua, bukan hal lain yang berbau politis.
Ia mengungkapkan, banyak kegiatan mahasiswa Papua yang langsung mendapat cap politis dan dianggap konsolidasi untuk Papua merdeka.

Pada tahun 2018, Fajar mengalami sendiri saat diskusi yang digelarnya di Ciputat Timur ditongkrongi intel kepolisian.

Ia berharap tidak ada lagi kecurigaan yang ditunjukkan dengan cara seperti pembubaran atau penggerudukan terhadap kegiatan mahasiswa.

“Negara ini sangat membatasi kita punya ruang gerak. Kita mau bicara pembangunan yang sudah dibuat Jokowi itu dibatasi, apa lagi bicara Papua Merdeka,” jelasnya.(den/asn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here