Aksi Solidaritas Mahasiswa untuk Papua, Pamerkan Teaterikal di Jalan Raya

METROTANGSEL.COM, Ciputat – Kelompok mahasiswa Papua yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Timur Melanesia menggelar aksi unjuk rasa, Selasa (20/8) di depan Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Aksi tersebut digelar dengan pertunjukan teaterikal di badan Jalan Ir H. Juanda. 

Beberapa mahasiswa nampak mengenakan topeng dan menenteng bendera merah putih. Sebagian lain memegangi spanduk berisi tuntutan dan aspirasi.

Kerumunan massa pendemo mulai menjorok ke badan jalan, aksi teatrikal tersebut menyebut bahwa tidak ada pemerataan kesejahteraan oleh pemerintah pusat bagi masyarakat Papua.

“Mereka hanya mengeruk sumber daya alam kami, tapi tidak pernah melakukan pemerataan kesejahteraan bagi masyarakat Papua,” ungkap Rahmat salah satu orator massa aksi.

Meski dilakukan dengan jumlah massa terbatas, namun aksi demonstrasi itu menyedot perhatian pengendara dan warga sekitar untuk menyaksikannya dari sisi jalan. 

Aksi itu disebutkan juga merupakan aksi damai sebagai reaksi atas peristiwa berbau rasis di asrama mahasiswa Papua Surabaya beberapa hari lalu. Saat itu, terlontar kata-kata makian berbau rasis dari oknum di luar gerbang asrama.

“Kita sebagai suatu bangsa yang terdiri dari berbagai etnis dan suku, sehingga tak pantas sesama anak bangsa melecehkan dengan kata-kata rasis. Indonesia ini telah merdeka 74 tahun lamanya. Kemerdekaan itu milik semua anak bangsa dari Aceh hingga Papua,” tambah Rahmat.

Massa berasal dari beberapa kampus yang ada di wilayah Kota Tangsel. Diantaranya UIN Jakarta, Universitas Muhamadiyah Jakarta (UMJ), dan Universitas Pamulang (Unpam).

Mereka memprotes dugaan persekusi kepada para mahasiswa asal Papua di Surabaya dan Malang.

“Kita ini semua satu Indonesia, Indonesia tanpa Papua bukanlah apa-apa. Begitupun Papua tanpa Indonesia bukan apa-apa. Kami menuntut agar hal itu tak terulang lagi. NKRI harga mati,” seru orator lainnya.

Koordinator massa aksi, Fajar Chuan, menegaskan, aparat Polri dan TNI harus memposisikan rakyat Papua layaknya masyarakat daerah lain di Indonesia tanpa diskriminatif. Adanya kesenjangan itulah, menurut Fajar, yang meletupkan konflik di daerah Papua maupun di daerah-daerah lain.

“Masyarakat Papua itu harus diperlakukan sama. Para founding fathers telah menyatukan kita semua sebagai bangsa yang satu. Mungkin warna kulit kita berbeda, rambut kita berbeda, tapi kita ada di bawah bendera Merah Putih, itu yang menyatukan kita semua,” tandasnya. (den/asn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here