Tangsel Dicap Kota Ramah “Dunia Malam”, MUI : Tutup Total Jika Terbukti Melanggar 

foto dok. detak

METROTANGSEL.COM, Serpong- Maraknya keberadaan tempat hiburan malam berupa cafe maupun warung remang-remang di Kota Tangsel, makin memprihatinkan.

Imbasnya, banyak sindiran bernada satire berkembang dikalangan masyarakat.

Warga menyebut jika kota yang dipimpin Airin Rachmi Diany lebih pas disebut “Kota Ramah Dunia Malam” bukan kota Cerdas Modern dan Religius. 

Komentar warga tersebut terkait diamankanya sejumlah “kupu-kupu” malam dan minuman keras saat diadakanya giat penertiban oleh Satpol PP setempat, pada Sabtu (21/9) malam.

Kepala Satpol PP Kota Tangsel Mursinah, yang ikut dalam giat penertiban tersebut mengatakan, pihaknya melakukan penertiban miras dan PSK di sejumlah titik.

“Mulai dari wilayah Serpong, Pondok Aren, Ciputat, Setu maupun Pamulang. Dan berakhir kembali di wilayah Serpong,” jelas Mursinah, kepada media saat melakukan penertiban di Lembayung Sutra Cafe, Serpong.

Mursinah melanjutkan, selama penertiban, Satpol PP berhasil menyita ratusan miras dan pengamanan PSK yang terjaring.

“Untuk detail miras yang disita silahkan tanya PPNS. Kita juga melakukan pendataan sesuai KTP di beberapa cafe untuk para waiters dan pramusaji yang berada disana,” ungkapnya.

Pihaknya akan terus berupaya, lanjut Mursinah, untuk menertibkan dan menyita miras dan rumah-rumah seperti itu.

“Karena itu tidak selaras dengan motonya tangsel yaitu cerdas, modern, religius. Ini belum selaras dengan motto nya Tangsel yaitu religius,” bebernya.

Sementara Sekretaris MUI Tangsel, Abdul Rojak mengatakan, sangat mendukung langkah penertiban yang dilakukan Satpol PP.

“Kami dari MUI Tangsel mendukung Satpol PP untuk melakukan penertiban terhadap warung remang-remang atau tempat-tempat yang disinyalir sebagai tempat kemaksiatan. Karena hal itu menciderai moto Tangerang Selatan yang religius,” jelas Rojak. 

Lanjut Kepala Kemenag ini, selama ini yang beredar di masyarakat banyak tempat refleksi keluarga tapi di dalamnya, prakteknya berbeda.

“Salon kecantikan misalkan, ternyata dalamnya diduga ada praktek tidak benar juga. Ya kalau betul-betul itu untuk pijat kesehatan kan gak dilarang asalkan dia bersertifikat,” bebernya.

Dia mengingatkan Satpol PP dalam melaksanakan giat penertiban, harus bisa mengendus tempat yang benar-benar ada praktek maksiatnya, sehingga dilanjutkan dengan langkah penindakan tegas. 

“Langkah Satpol PP sudah bagus, tapi sifatnya harus continue. Tentang ijinnya dicek juga. Jadi didata dulu mana yang sudah berijiin mana yang belum,” jelasnya.  

“Perlu ada pengawasan juga. Setiap 3 bulan atau 5 bulan sekali ada atau tidak aduan masyarakat, harus dicek ke lokasinya. Terus yang ketiga yang paling penting harus ada penindakan yang tegas. Jadi kalo memang sudah menyalahi ya jangan ada kompromi, tutup total gitu supaya ada efek jera,” tutupnya.(sam/asn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here