Momentum Sumpah Pemuda, Tiga Bacawalkot Milenial Diuji Gagasannya di Tangsel Bicara Jilid 3

Tiga Bacawalkot dan panelis kompak berswa foto usai mengisi acara diskusi politik milenal 'Tangsel Bicara Jilid3' yang diselenggarakan PWI dan SMSI Tangsel di Resto Kampung Anggrek, Serpong, Senin, (28/10).

METROTANGSEL.COM, Serpong – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Tangsel kembali menggelar diskusi Tangsel Bicara jilid 3.

Kali ini konsep yang diusung berbeda dengan diskusi sebelum-sebelumnya. 

Bertepatan dengan momentum hari sumpah pemuda, diskusi yang digelar ini mengangkat tema tentang kebutuhan milenial dalam mencari pemimpin masa depan – Millennials Need “The Future Leader”-

Diskusi menghadirkan tiga Bakal Calon (Bacalon) Walikota yang dianggap mewakili kaum milenial untuk menyampaikan gagasannya.

Ketiganya yakni Fahd Pahdepie, Suhendar, dan Aldrin Ramadian.

Para bacawalkot milenial itu dihadapkan dengan lima panelis dari berbagi bidang, yakni akademisi UIN Jakarta Djaka Badranaya, Athari Fahrhani Ketua Permahi Tangerang Raya, Chavcay Sarfullah sebagai budayawan.

Panelis lainnya, Ahmad Jumaidi Ketua SMSI Tangsel, dan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Tangsel Asep Solahudin. Dan Miftahul Adib pengamat kebijakan publik tampil sebagai moderator.

Para panelis silih berganti mencecar ketiga bakal calon dari kalangan milenial ini dengan berbagai pertanyaan menarik.

Akademisi Djaka Badranaya menanyakan solusi ketimpangan sosial akibat pembangunan yang tidak merata dan terkesan “auto pilot”.

Sementara Athari dari Permahi menguji wawasan bacalon seputar menempatkan ilmu, teknologi, dan hukum sebagai landasan pembangunan untuk mewujudkan SDM pemuda yang berkualitas. 

Panelis lainnya, Ahmad Jumadi secara normatif menanyakan peran mereka terkait peranan insan pers dan pemuda kedepannya. 

Partanyaan panelis ditanggapi pertama oleh Suhendar.

Akses pemuda dalam memantau kebijakan pemerintah daerah akan dibuka seluasnya dalam partisipasinya bersama-sama membangun daerah.

Baik soal akses  keterbukaan anggaran maupun hal lainnya. 

“Tentunya kami sudah memiliki program pembangunan kepemudaan. Dimana dalam program ini, kami berupaya bagaimana integrasi lintas OPD di Tangsel ini memiliki tanggungjawab yang sama terhadap pemuda,” jelasnya.

Sehingga, lanjut dia, pembangunan pemuda di Tangsel ini tidak hanya menjadi tugas satu OPD saja, tetapi akan didorong kebijakan anggaran dimana tanggungjawab pembangunan pemuda menjadi tanggungjawab lintas OPD.

Sementara Aldrin dalam kesempatan sama menerangkan, ia lebih suka turun langsung menyerap aspirasi pemuda. 

“Jadi saya akan lebih banyak turun menyerap ide dan gagasan anak-anak muda Tangsel. Karena kalau kita yang menawarkan gagasan dan ide belum tentu cocok dengan mereka dan jalannya. Sehingga kami akan lebih banyak mendengar,” tuturnya.

“Dari gagasan dan ide mereka lah, kami akan menyusun program-program kepemudaan. Sehingga kerjasama antara pemerintah dengan pemuda akan berjalan seimbang dengan baik,” paparnya. 

Sedangkan Fahd  Pahdepi langsung memaparkan 18 program yang sudah disusunya, ketika nanti menjadi Walikota. 

Beberapa diantaranya ialah program terkait pembangunan pemuda di Kota Tangsel yang diketahui memiliki populasi lebih besar.

“Seperti program muda berdaya. Dimana dalam program ini saya akan membuat pendidikan tambahan bagi pemuda yang memiliki keahlian khusus. Sehingga kita tidak lagi berbicara menciptakan kelompok muda yang hanya memiliki jiwa wirausaha, tetapi juga memiliki kemampuan berdaya saing,” tegasnya.

“Artinya, kami akan menciptakan program kepemudaan agar menjadi pemuda yang memiliki daya saing yang kuat. Dengan kebijakan anggaran inilah kita susun program Muda Berdaya,” tutupnya.

Acara diskusi ditutup dengan membacakan Sumpah Pemuda oleh Moderator dan diikuti seluruh peserta yang hadir. (sam/asn)

Foto-foto Dhans

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here