BATAN Kembangkan Sistem Pemantau Radiasi Lingkungan

Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan.

METROTANGSEL.COM, Jakarta – Apa jadinya jika suatu negara melakukan uji coba senjata nuklir? Dampaknya bisa saja sampai ke negara lain.

Mengantisipasi hal ini, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengembangkan suatu sistem yang bisa memantau adanya bahan radioaktif yang mengganggu keselamatan dan keamanan.

Sistem ini akan terintegrasi, yang disebut dengan Sistem Pemantau Radiasi Lingkungan untuk Keselamatan dan Kemananan (SPRKK).

“SPRKK adalah suatu sistem terintegrasi yang pemanfaatannya untuk mendeteksi ada atau tidak bahan radioaktif baik dari lingkungan maupun yang masuk ke Indonesia yang bisa mengganggu keselamatan dan keamanan,” jelas Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan, melansir laman batan, Jumat, (31/1/2020).

SPRKK, lanjutnya, salah satunya digunakan untuk mendeteksi radioaktivitas di udara dan tanah.

“Negara tetangga yang sudah memiliki diantaranya Malaysia dan Filiphina. Namun yang akan kita kembangkan disini komponennya sebagian besar buatan sendiri dan sistemnya terintegrasi, ini yang kita tonjolkan,” lanjut Anhar.

Ada juga yang disebut dengan Portal Monitor Radiasi, yaitu suatu perangkat yang digunakan untuk mencegah adanya bahan radioaktif yang masuk ke Indonesia melalui pelabuhan ataupun bandar udara. Saat ini baru terpasang 6 unit portal monitor radiasi di Indonesia dan merupakan bantuan dari Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) yang diproduksi di luar negeri.

Dengan banyaknya pintu masuk pelabuhan dan bandar udara di Indonesia, saat ini BATAN sedang mengupayakan 2 prototipe portal monitor radiasi buatan dalam negeri agar dapat tersertifikasi tahun ini.

Uji coba portal monitor radiasi telah terpasang di kantor BATAN di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta, dan Kawasan Nuklir Serpong, Tangerang Selatan.

Prototipe SPRKK masuk ke dalam program Prioritas Riset Nasional (PRN) Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional dimana BATAN ditugaskan sebagai koordinator, disamping 2 PRN lainnya, yakni pengembangan radioisotop dan radiofarmaka dan prototipe pembangkit listrik tenaga nuklir.

Dalam pengembangan prototipe SPRKK ini, BATAN mengembangkan perangkat teknologi dan sistem, bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang memiliki stasiun meteorologi diseluruh Indonesia, PT. LEN Industri yang berpengalaman dalam instrumentasi, serta Badan Pengawas Tenaga Nuklir yang bertanggung jawab terhadap pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir untuk keselamatan dan keamanan masyarakat Indonesia.

“Targetnya dalam 5 tahun kedepan komponen-komponennya selesai, sistemnya terintegrasi, dan software bisa terselesaikan,” pungkasnya (sam)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here