Gembira dan Taqwa di Bulan Ramadhan

    METROTANGSEL.COM – Puasa di bulan Ramadan Tahun ini adalah ibadah puasa yang kedua dimasa pendemi , sedih tak menentu karena sholat teraweh, halal bihalal dilarang dan ekonomi juga tak menentu.

    Ibadah puasa ramadhan adalah wajib bagi umat Islam yg ber iman .Ibadah ini dikhususkan hanya untuk yg beriman .

    Dalam surat Al-Baqarah 183 berbunyi:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

    Bagi yang menjalankan puasa ramadhan yakinlah puasa ini akan memberikan kegembiraan dan ketaqwaan.

    Alasan Para ulama kenapa seseorang yang berpuasa harus merasa gembira dengan dekatnya atau tibanya waktu berbuka.

    Pertama: Sebagai rasa senang bahwa ia tidak melalaikan puasa tersebut.

    Kedua: Sebagai rasa senang akan berbuka dan menyantap makanan , apabila telah lama tidak menyantap makanan atau meneguk minuman,

    tentunya ia akan bergembira bila makanan atau minuman tersebut akan segera ia konsumsi, apalagi bila perutnya dalam keadaan lapar dan kerongkongannya dalam keadaan haus.

    Ketiga: Rasa senang karena adanya harapan dan keyakinan akan adanya pahala dan ganjaran puasa yang akan diraih dengan berakhirnya puasa pada hari itu.

    Pahala puasa adalah membentuk manusia ber taqwa , sebagaimana janji Allah

    Allah berfirman dalam hadis qudsi:

    « كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به »

    Artinya: : “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung ”.

    (HR Bukhari dalam Shahihnya: 2/226 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu

    Para ulama telah memberikan penjelasan makna redaksi hadis “ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran pada-Nya secara langsung” diantaranya:

    Bahwa semua amalan kecuali amalan puasa bisa dijadikan sebagai tebusan atas qishash/pembayaran kezalimannya antara dia dengan orang-orang yang ia zalimi.

    Sehingga pahala-pahalanya tersebut diambil darinya, dan diberikan pada orang-orang yang ia zalimi, hingga bila pahalanya telah habis dibagi-bagi,

    maka dosa-dosa orang-orang yang ia zalimi yang belum mendapat bagian pahalanya, dipindahkan padanya, lalu ia dijerumuskan kedalam neraka.

    (lihat: Shahih Imam Muslim: 4/1997 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

    Kedua: Ia berjumpa dengan Rabb-nya karena akan mendapatkan derajat yang tinggi dihadapan Allah ta’ala karena sebab pahala dan ganjaran puasa dan kesabarannya dalam menjalankannya.

    Bergembira karena mengingat nikmat Allah ta’ala dan taufiqNya atas dirinya tatkala didunia dalam kesuksesan menjalankan ibadah puasa hingga mendapatkan ridha, derajat yang tinggi, dan ampunan-Nya.

    Demikian, semoga kita diberikan anugerah untuk mendapatkan kegembiraan dan Ketaqwaan ini didunia dan diakhirat kelak, Aamiin.

    DR. Haris Sarwoko ,SE.MSi ,CIBA ,CMA,CPA.

    Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta

    Pembina Masjid At Taqwa Vila Mutiara Sawah Baru Ciputat

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here