Membaca Pandemi Covid-19 dalam Spirit Mencari Makna

PANDEMI Covid-19 yang terus menunjukkan keganasannya akhir-akhir ini, membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan PPKM Darurat mulai tanggal 3 – 20 Juli 2021 untuk wilayah Jawa-Bali.

Kebijakan ini dikeluarkan, antara lain untuk mencegah peningkatan penyebaran Covid-19, karena semakin banyak korban dan meningkatnya kasus yang terpapar Covid-19.

Data per 3 Juli 2021, saat hari pertama pemberlakukan PPKM Darurat, menunjukkan penambahan kasus Covid-19 sebanyak 27.913 dalam 24 jam terakhir (Kompas.com, 3/7/2021),

dan berdasarkan data per 9 Juli 2021 sampai pukul 12.00 penambahan kasus perhari mencapai 38.124 (kompas.com, 9/7/2021).

Data penambahan kasus ini tentu merupakan kondisi yang sangat menghawatirkan, sekaligus menjadi peringatan untuk seluruh masyarakat agar lebih berhati-hati dan patuh terhadap protokol kesehatan Covid-19.

Pada awal kemunculnya, Covid-19 sendiri mendapat tanggapan beragam, mulai dari pandangan bahwa Covid-19 merupakan virus biasa

dan tidak mematikan, sampai dipandang sebagai suatu bentuk konspirasi dengan bumbu-bumbu perang dagang dan lain-lain.

Pandangan-pandangan tersebut mungkin memiliki argumentasi masing-masing, namun tentu semuanya harus diuji kesahihannya.

Terlepas dari itu semua, penulis sendiri mulai menyadari keganasan Covid-19 ketika mendengar dan menyaksikan teman, tetangga dan guru penulis yang terpapar.

Bahkan saat ini, nyaris hampir tiap hari pengeras suara masjid di sekitar wilayah penulis tinggal, mendengar pengumuman berita kematian, ini belum termasuk berita kematian yang hampir tiap hari juga menghiasi media sosial.

Terlepas kematiannya karena disebabkan Covid-19 atau bukan, namun pengumuman tersebut seolah-olah semakin menegaskan keganasan Covid-19, terutama dengan adanya varian baru.

Tulisan ini bukan untuk bermaksud meningkatkan kekhawatiran atau kepanikan atas situasi saat ini, karena kepanikan adalah separuh penyakit, demikian yang pernah dituturkan oleh Ibnu Sina, seorang filosof dan bapak ilmu kedokteran, sehingga memelihara kepanikan sama artinya menurunkan imun.

Oleh karena itu, tulisan ini hanya sekadar refleksi atas situasi dan kondisi yang ada, untuk selanjutnya mencari makna dibalik kondisi pandemi ini.

Kuasa Pandemi Covid-19

Sampai saat ini, pandemi Covid-19 telah menggeser dan mengubah beberapa tatanan kehidupan, baik skala yang lebih besar maupun skala yang lebih kecil dalam praktek kehidupan keseharian disekitar tempat tinggal kita.

Nurdin Sibaweh (Wakil Ketua ICMI Orda Tangsel)

Beberapa yang bergeser dan berubah tersebut antara lain dalam konteks pemerintahan, pendidikan, keagamaan, dan pola prilaku keseharian.

Dalam konteks pemerintahan, setidaknya dalam tata kelola keuangan atau anggaran, mengalami perubahan dengan adanya kebijakan realokasi dan refocusing anggaran kementerian dan lembaga untuk penanganan Covid-19.

Adapun dalam konteks pendidikan, dapat disaksikan pelaksanaannya banyak dilakukan secara virtual dengan menggunakan perangkat teknologi, seperti media Zoom atau Google Class Room (GCR).

Sementara dalam konteks keagamaan, juga terdapat perubahan seperti adanya larangan shalat berjamaah di masjid dan shaf shalatpun dilakukan berjarak.   

Selain itu, dalam kehidupan keseharian juga mengalami beberapa tradisi yang berubah seperti dalam hal tidak dilakukannya berjabat tangan dan ‘hilang’nya kesempatan bersilaturahmi secara langsung kepada saudara, tetangga dan orang tua.

Beberapa kondisi tersebut di atas, secara tidak langsung menciptakan apa yang disebut Foucault, seorang tokoh post-strukturalis Perancis, sebagai kekuasaan.

Foucault (1976:122-123) memahami kekuasaan tidak mengacu pada satu sistem umum dominasi oleh suatu kelompok terhadap yang lain, tetapi beragamnya hubungan kekuasaan.

Dalam hal ini, kekuasaan bagi Foucault bukan suatu institusi, bukan struktur, dan bukan juga suatu kekuatan yang dimiliki, melainkan nama yang diberikan pada situasi strategis komplek dalam suatu masyarakat.

Mengenai konsep kekuasaan Foucault ini, Haryatmoko (2016:15:16) secara lebih sederhana menjelaskan ciri-cirinya, yaitu kekuasaan tidak dapat dilokalisir, merupakan tatanan disiplin dan dihubungkan dengan jaringan,

memberi struktur kegiatan-kegiatan, tidak represif tetapi produktif, serta melekat pada kehendak untuk mengetahui. Berdasarkan hal ini, pandemi Covid-19 dapat dikatakan telah menjadi kekuasaan, atau bisa disebut juga dengan kuasa pandemi Covid-19.

Disebut kuasa pandemi Covid-19, karena telah menciptakan kuasa tersendiri, dimana terdapat suatu situasi dan kondisi strategis yang komplek,

situasi dan kondisi tersebut beroperasi antara lain dengan melahirkan tatanan disiplin seperti penggunaan masker, ia juga memberikan struktur kegiatan-kegiatan seperti untuk selalu menjaga jarak dan beberapa kegiatan lain sebagai efek pandemi Covid-19.

Selain itu pandemi Covid-19 itu sendiri tidak represif, hal ini tentu di luar penegakkan ketertiban oleh aparat pemerintah atau pemerintah daerah. Dalam beberapa kondisi dan orang-orang tertentu, pandemi Covid-19 justru produktif,

seperti adanya pelaku usaha kuliner yang mampu memaksimalkan dan akrab dengan berbagai aplikasi teknologi, sehingga usahanya lebih maju di saat pandemi Covid-19,

diantaranya pelaku usaha kerupuk kulit Dorokdokcu di Bandung, yang pernah penulis dapatkan penjelasan secara langsung dari pemilikinya.

Dalam aktivitas kita sehari-hari, mungkin juga tanpa disadari kita memiliki hal atau tradisi yang positif dan produktif, seperti beberapa guru penulis yang mampu menulis sejumlah buku, dan beberapa orang tua yang mampu mengajarkan anaknya membaca dan lain-lain.

Beberapa hal inilah yang dapat menjadi indikator bahwa pandemi Covid-19 merupakan bentuk kekuasaan dalam perspektif Foucault. Sampai disini, kekuasaan tidak bisa dipisahkan dari pengetahuan.

Foucault (1975:36) sendiri mengatakan bahwa kekuasaan menghasilkan pengetahuan, kekuasaan dan pengetahuan saling terkait, tidak ada kekuasaan tanpa pembentukan yang terkait dengan bidang pengetahuan, dan tidak ada pengetahuan yang tidak mengandaikan serta tidak membentuk sekaligus hubungan kekuasaan.

Spirit Mencari Makna

Terlepas bahwa pandemi Covid-19 ini telah mengakibatkan banyak korban, dan mungkin ‘merusak’ sebagian tatanan kehidupan, penulis tidak menafikan hal tersebut,

namun penulis juga tidak mau terjebak kepada situasi dimana pandemi Covid-19 ini hanya dipandang sebagai bencana. Hal yang ingin penulis lakukan adalah membangun spirit untuk mencari makna.

Makna disini, dalam konteks agama dapat disebut juga sebagai hikmah, yang didefinisikan oleh Alfarabi, salah seorang tokoh filsafat Islam, sebagai pengetahuan tertinggi menyangkut eksistensi-eksistensi yang paling utama.

Dalam upaya mencari makna, penulis memosisikan pandemi Covid-19 sebagai teks dalam bingkai dekonstruksinya Derrida, yang memahami bahwa makna tidak ada dalam teks, melainkan hasil dari membacanya.

Setiap teks akan melahirkan makna baru dan terus memproduksi makna, tanpa harus menghilangkan makna yang lama.

Sampai disini, selain dimaknai sebagai bencana, kuasa pandemi Covid-19 ini, sebagaimana dipahami Foucault sebelumnya, juga melahirkan hal-hal yang positif dan produktif, serta melahirkan pengetahuan yang mendukung adanya kuasa pandemi Covid-19 tersebut.

Beberapa hal yang bisa disebutkan antara lain, kebiasaan lebih rutin mencuci tangan, menggunakan masker, lebih rajin dalam menjaga kebersihan rumah serta lingkungan, dan adanya beberapa pegawai, guru, dosen, pelajar dan orang tua

yang mulai mahir menggunakan perangkat teknologi, merupakan bagian pengetahuan yang mendukung kuasa pandemi Covid-19.

Adapun makna yang dapat ditemukan, diantaranya kuasa pandemi Covid-19 ini ini bisa dimaknai sebagai pemantik utama upaya membangun kesadaran pentingnya memelihara alam lebih baik atau lebih akrab lagi.

Sangat dimungkinkan aktivitas kita yang padat dalam konteks ‘keduniaan’ selama ini telah melupakan bahwa alam ini butuh keseimbangan dan perlu dirawat, atau jangan-jangan selama ini kita secara tidak sadar telah melakukan ‘dosa sosial’,

baik dilingkungan kecil tempat kita tinggal maupun lingkungan yang besar dalam cakupan nasional.   

Makna lainnya, dimana pandemi Covid-19 ini telah melahirkan krisis, maka dalam kondisi krisis itulah setiap orang diuji, termasuk pemimpin, baik pemimpin formal maupun informal.

Sebagai contoh pemimpin formal, saat ini Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota sedang diuji kemampuan dan potensinya untuk menjadi pemimpin di tengah krisis, apakah mampu menyelamatkan warganya atau justru sebaliknya, apakah mampu melaksanakan roda pemerintahan secara baik dan transparan atau justru melakukan korupsi, dan lain-lain.

Dengan kata lain, kemampuan pemimpin dalam situasi krisis ini, menjadi peluang sekaligus tantangan dan potret diri seorang pemimpin. Dalam hal yang lebih kecil lagi, setiap kita juga diuji, apakah setiap kita memiliki kepedulian terhadap saudara, teman, atau tetangga kita yang terpapar ataupun terdampak Covid-19.

Selain itu, secara teologis setiap kita juga diuji, apakah di tengah krisis ini semakin dekat dengan Tuhan, atau justru semakin menjauh.

Akhirul kalam, setiap peristiwa dipastikan ada makna yang terkandung di dalamnya, dan setiap kita dituntut untuk pandai menangkap makna tersebut. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here